Bagi Kami Alfred Riedl Harga Mati

Jakarta – Sebuah kalimat bijak mengajarkan bahwa “informasi yang tidak benar harus ditutup dengan informasi yang tak benar berikutnya.” Untuk itulah, sebagai kelompok yang mengklaim didukung lebih dari 2/3 pemilik suara, kami memang harus berlaku cerdik dalam merebut simpati publik sepakbola nasional.

Ingatlah, dalam perang apa pun boleh dilakukan, termasuk apabila terpaksa dilancarkan suatu propaganda. Hal itu sah-sah saja. Dalam berjuang, wajar dan perlu disampaikan kepada publik mengenai hal-hal maupun informasi informasi yang dirancang untuk memengaruhi mereka agar memahami “kenyataan baru” sekaligus mengaburkan kenyataan yang sesungguhnya. Makanya, muatan informasi itu tidak boleh obyektif atau tidak boleh sesuai dengan kenyataan.

Suatu propaganda memang tidak harus memuat pesan yang benar, kalau pun ada kebenaran, yang disampaikan haruslah fakta-fakta pilihan yang dapat menghasilkan pengaruh tertentu, atau lebih menghasilkan reaksi emosional daripada reaksi rasional. Hal itu bertujuan untuk mengubah pikiran kognitif narasi subjek dalam kelompok sasaran untuk kepentingan tertentu.

Dengan begitu, upaya yang dilakukan secara sengaja dan sistematis tidak lain untuk membentuk persepsi, memanipulasi alam pikiran atau kognisi, dan memengaruhi langsung perilaku agar memberikan respon sesuai yang dikehendaki.

Sebagai komunikasi satu ke banyak orang (one-to-many), propaganda memisahkan komunikator dari komunikannya. Namun menurut Ellul, komunikator dalam propaganda sebenarnya merupakan wakil dari organisasi yang berusaha melakukan pengontrolan terhadap masyarakat komunikannya.

Sehingga dapat disimpulkan, komunikator dalam propaganda adalah seorang yang ahli dalam teknik penguasaan atau kontrol sosial. Dengan berbagai macam teknis, setiap penguasa atau yang bercita-cita menjadi penguasa harus mempergunakan propaganda sebagai suatu mekanisme alat kontrol sosial.

Kenapa kami merasa harus memperjuangkan kenyataan semu menjadi kenyataan? Karena tanpa kemampuan mewujudkan kebohongan yang dibangun secara terstruktur dan terencana itu menjadi kenyataan, maka kebohongan terstruktur yang pernah kami lakukan akan terbongkar di depan publik, yang bisa saja mendatangkan aib besar.

Selama ini media mainstream dan beberapa jurnalis cukup berhasil mengekspos suatu “kenyataan” bahwa Timnas Indonesia yang akan bertanding di Piala AFF 2012 adalah Ponaryo Astaman cs dengan pelatih Alfred Riedl.

Mereka juga mengabarkan bahwa Ketum PSSI yang sah dan legitimate adalah Bapak La Nyalla Mattalitti. Fakta pilihan semacam itu sangat penting untuk digaungkan terus-menerus agar publik semakin kabur dengan kenyataan bahwa federasi yang sah dan legitimate di mata FIFA/AFC adalah yang dipimpin oleh Djohar Arifin.

Kami patut bersyukur dikarenakan banyak media mainstream yang berpihak sangat getol, kalau tidak dapat disebut cenderung membabi buta, melancarkan apa yang kami mau. Lebih hebat lagi, mereka tidak mau sedikit pun memberitakan eksistensi Timnas Indonesia yang ditukangi oleh Nil Maizar secara berimbang. Hasil-hasil pertandingan tim asuhan Nil Maizar tidak diberitakan, dengan tujuan untuk memberi “pemahaman” kepada masyarakat awam bahwa hanya ada satu timnas yakni di bawah Alfred Riedl.

Ada memang sedikit berita yang menyinggung Timnas Indonesia asuhan Nil Maizar, tetapi itu hanya diberitakan jika tim tersebut mengalami kekalahan. Hal ini jelas patut diapresiasi dan penghormatan. Ingat, dalam perang apa pun sah untuk dilakukan.

Lagipula, keberpihakan pemilik media pada suatu penggiringan kepentingan sah-sah saja di era kapitalisme global sekarang ini. Jika TVONE lebih banyak memberitakan ARB sebagaimana MetroTV lebih banyak memberitakan SP, wajar saja bukan? Toh, publik juga tidak bodoh-bodoh amat mencerna sebuah berita.

Harus diakui upaya yang kami lakukan dan juga dikabarkan melalui media-media mainstream akan semakin sulit begitu mendengar kabar bahwa Timnas Indonesia yang diakui untuk mengikuti ajang Piala AFF 2012 adalah yang direkomendasikan oleh PSSI Djohar Arifin.

Namun, untungnya kami tidak kalah menyiasati isu itu. Dalam rapat Komite Bersama (KB) pada tanggal 22 Oktober 2012 kemarin lusa, kami sengaja ngotot mengegolkan Alfred Riedl untuk menempati kursi pelatih kepala Timnas Indonesia.

Memang benar, rapat tersebut berakhir buntu alias “deadlock” karena PSSI menolak tawaran kami itu. Akan tetapi, kami masih punya banyak kartu truf untuk memaksakan kepada PSSI agar Alfred Riedl menempati kursi pelatih. Instrumen 8 pemain Semen Padang yang menghuni Timnas Indonesia saat ini dapat segera kami mainkan, cepat atau lambat.

Apa pun dalihnya, kursi pelatih kepala bagi Alfred Riedl sudah menjadi harga mati bagi kami. Sebab jika itu terwujud, maka kami boleh dibilang berhasil dalam melanggengkan superioritas kami terhadap PSSI. Hal ini mutlak tak boleh gagal, sebab kalau sampai gagal, maka taruhannya adalah pemilihan umum 2 tahun mendatang di mana media-media mainstream milik kami akan semakin tergerus kepercayaannya di mata publik. Semoga saja tidak. Selamat berkarya di siang yang semakin membakar ubun-ubun kepala!

Source: BDM/Admin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s