About US

Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI) bukanlah kelompok baru yang mewakili sebagian anggota PSSI. Pada tanggal 1 Maret 2011 dibentuk KPSI yang digagas oleh 84 pemilik suara (mayoritas berasal dari Pengurus Provinsi/Pengprov) di PSSI.

KPSI kala itu dibentuk sebagai mosi tidak percaya pada Nurdin Halid serta untuk menyelenggarakan kongres sendiri di luar PSSI. Namun gagasan ini akhirnya diurungkan dan KPSI ini menjadi cikal bakal hadirnya Kelompok 78.

Kini KPSI hadir kembali lewat Rapat Akbar Sepakbola Nasional (RASN), sama-sama digagas oleh mayoritas pengurus Pengprov dan juga sama-sama menyatakan mosi tidak percaya pada Ketua Umum PSSI (baca: Djohar Arifin Husin yang terpilih pada KLB PSSI Solo). Bedanya KPSI versi baru ini berhasil menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) yang diklaim dihadiri oleh 80 pemilik hak suara PSSI pada 18 Maret 2012. KLB tersebut menghasilkan Ketua Umum PSSI yang baru yaitu Bapak La Nyalla Mattalitti meskipun belum mendapat legitimasi dari FIFA/AFC.

Tidak banyak bedanya dengan wujud KPSI versi lama, KPSI versi baru ini juga ngotot untuk mewujudkan keinginan mereka. KPSI saat ini tetap berpendirian bahwa kepengurusan PSSI yang sah adalah hasil KLB mereka meski belum mendapat restu dari FIFA/AFC.

Konflik yang terjadi dalam sepakbola Indonesia kembali mendapat perhatian dari organisasi sepakbola di atas PSSI. Konflik ini coba ditengahi oleh AFC dengan mendudukkan bersama kedua pihak (PSSI-KPSI) dan akhirnya melahirkan kesepakatan (MoU), dimana salah satu poin dari MoU ini adalah hadirnya Joint Committee (JC/Komite Gabungan). JC ini tidak sama seperti KN, tugas JC adalah sebagai sarana komunikasi kedua belah pihak tanpa mengambil alih peran Exco PSSI.

Meski AFC turun tangan, namun KPSI tetap bersikeras bahwa kepengurusan hasil KLB yang sah. Bahkan hasil kesepakatan yang disetujui oleh KPSI di depan perwakilan AFC sengaja dibatalkan dengan cara pembentukan Tim Nasional The Real garuda (TRG) KPSI dan kongres yang diagendakan akan berlangsung pada tanggal 10 November mendatang.

KPSN Cikal Bakal KPSI

Satu setengah tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 1 April 2011, FIFA (induk organisasi sepakbola dunia) membekukan kepemimpinan Nurdin Halid di PSSI. Peran dan tugas Ketua beserta Komite Eksekutif (Exco) PSSI digantikan oleh Komite Normalisasi (KN) yang dibentuk oleh FIFA, diketuai oleh Agum Gumelar. Tugas utama dari KN saat itu adalah menyelenggarakan kongres untuk membentuk kepengurusan PSSI yang baru.

FIFA lewat Komite Darurat menyatakan bahwa kepemimpinan PSSI saat itu tidak lagi mampu mengontrol sepakbola Indonesia. Penilaian ini bukan tanpa alasan, kongres PSSI yang rencananya diselenggarakan pada tanggal 26 Maret 2011 di Pekanbaru gagal terwujud.

Pada tanggal 14 April 2011, KN membentuk Komite Pemilihan dan Komite Banding Pemilihan. Kedua komite bentukan KN tersebut bertugas untuk memverifikasi bakal calon pengurus PSSI yang baru. Kongres PSSI sendiri digelar di Hotel Sultan Jakarta pada tanggal 20 Mei 2011, namun lagi-lagi kongres ini tidak bisa menghasilkan keputusan apa pun terkait suksesi kepengurusan PSSI.

Kegagalan Kongres PSSI saat itu akibat adanya perbedaan pendapat antara Komite Normalisasi dan peserta kongres yang dikenal dengan Kelompok 78 mengenai keabsahan status bakal calon pengurus PSSI yaitu George Toisutta dan Arifin Panigoro.

Sebelumnya Komite Banding yang beranggotakan Ahmad Riyadh, Umuh Muchtar dan Rio Danamore memutuskan bahwa Arifin Panigoro dan George Toisutta berhak dicalonkan. Sementara KN tetap kukuh bahwa Nurdin Halid, Nirwan Bakrie, Arifin Panigoro dan George Toisutta tidak bisa dicalonkan sesuai surat FIFA.

Kongres pemilihan PSSI akhirnya kembali digelar pada tanggal 9 Juli 2011 yang dilaksanakan di Solo. Kongres ini akhirnya berjalan lancar dan melahirkan kepengurusan PSSI yang baru. Harus diakui salah satu kesuksesan kongres di Solo ini merupakan peran Kelompok 78 yang akhirnya mau mengikuti arahan FIFA dan kembali dalam aturan Statuta. Dari Kongres PSSI di Solo tersebut, Djohar Arifin terpilih sebagai Ketua Umum PSSI periode 2011-2015 dengan memperoleh 61 suara dari 100 pemilik suara.

Namun, tiga bulan Djohar Arifin Husin menjabat Ketum PSSI, dia mulai digoyang. USut punya usut, konon Djohar disepakati hanya untuk menjabat selama 3 bulan untuk kemudian jabatan Ketum PSSI dipilih lagi dan mengerucut pada 3 nama: Nirwan D. Bakrie, Arifin Panigoro, dan George Toisutta.

Goyangan terhadap Djohar Arifin semakin kencang manakala Alfred Riedl dipecat. Pihak PSSI mengaku bahwa Alfred Riedl dikontrak oleh Nirwan Bakrie dan bukan oleh PSSI. Alfred Riedl sendiri membantah hal tersebut dan membawa persoalan ini ke FIFA dan kasus ini sampai sekarang belum terselesaikan.

Menyikapi pemecatan Alfred Riedl dan ketidaksenangan lainnya, eks kelompok 78 yang sebelumnya mendukung Djohar Arifin pada KLB Solo bersama Forum Pengrov PSSI (FPP) dan beberapa mantan exco di masa kepengurusan Nurdin Halid menyerang balik dengan mengadakan Rapat Akbar Sepakbola Nasional (RASN) di Hotel Pullman, Jakarta, pada 18 Desember 2011.

RASN menyepakati agar segera digelar KLB PSSI dengan agenda utama untuk melengserkan kepengurusan PSSI di bawah pimpinan Djohar Arifin yang dianggap telah melakukan sejumlah pelanggaran Statuta PSSI.

Keputusan itu konon disepakati mayoritas anggota PSSI yang hadir dalam rapat yang dihadiri 27 pengurus PSSI tingkat provinsi, perwakilan pengurus 18 klub Indonesia Super League (ISL), perwakilan 23 klub Divisi Utama serta 360 klub Divisi 1, 2, dan 3.

Hasil rapat juga sepakat membentuk Komite Penyelamat Sepakbola Nasional (KPSN, kini KPSI) yang diketuai Anggota Exco PSSI yang dipecat, Toni Apriliani. Tugas KPSN untuk mengawal tuntutan KLB yang disuarakan mayoritas anggota PSSI.

Hasil-hasil RASN yang diberi nama Deklarasi Jakarta Anggota PSSI, adalah sebagai berikut:

1. Menyampaikan mosi tidak percaya kepada saudara Djohar Arifin Husin sebagai Ketua Umum PSSI, Wakil Ketua Umum PSSI, Sihar Sitorus, Mawardi Nurdin, Widodo Santoso, Tuti Dau dan Bob Hippy sebagai anggota Exco karena dinilai tidak kredibel dalam menjalankan organisasi PSSI dan melakukan pelanggaran terhadap statuta PSSI dan tidak menjalankan hasil keputusan Kongres Tahunan PSSI di Bali.

2. Meminta untuk diselenggarakan KLB PSSI dengan agenda pemilihan Ketum, Waketum dan Exco PSSI paling lambat 30 Maret 2012.

3. Meminta kepada PSSI untuk memberikan jawaban terhadap diselenggarakannya KLB PSSI tersebut pada poin 2, selambat-lambatnya pada 23 Desember 2011.

4. Membentuk Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia yang terdiri dari Toni Apriliani (Ketua), La Nyalla Mattalitti, Roberto Rouw, Erwin Dwi Budiawan, Benhur Tommy Mano, M Farhan, Dody Reza Alex, FX Hadi Rudyatmo, Sumaryoto, Hardi, Benny Dolo, yang memiliki tugas untuk memastikan diselenggarakannya KLB PSSI tersebut. Dan apabila PSSI tidak bersedia, maka dengan ini kami memberikan kewenangan penuh kepada KPSI untuk menyelenggarakan KLB PSSI sesuai Statuta PSSI.

5. KPSI juga bertugas menjalankan roda organisasi PSSI sesuai hasil Kongres II di Bali termasuk memproteksi kredibilitas dan integritas PSSI dan anggotanya sampai dengan terpilihnya Exco PSSI yang baru.

Hasil-hasil RASN sebenarnya kalah populer dibandingkan dengan 7 Manifesto KPSI yang lahir pada 17 Maret 2011 atau sehari sebelumnya. Ketujuh manifesto dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Mengajukan mosi tidak percaya akan kepemimpinan Djohar Arifin karena melanggar Statuta PSSI dan Kongres Bali II.

2. Mencabut dukungan kepada Djohar Arifin dan membekukan kepemimpinannya serta membubarkan semua Anggota Exco yang masih aktif di PSSI dan mengangkat kembali anggota Exco yang dipecat oleh Djohar Arifin, yakni La Nyalla M Mattalitti, Erwin Dwi Budiman, Roberto Rouw dan Tony Apriliani.

3. Melaporkan bahwa 2/3 anggota PSSI telah siapkan menjalankan Ekstra Ordinary Congress atau Kongres Luar Biasa (KLB).

4. Tetap menolak sanksi apapun yang dijatuhkan oleh PSSI di bawah kepemimpinan Djohar Arifin.

5. Tidak menghadiri dan menganggap tidak sah Kongres Tahunan PSSI di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, pada 18 Maret 2012.

6. Membawa masalah pembelotan KPSI ke Badan Arbritase Olahraga Internasional.

7. Daripada menyerah dan melakukan rekonsiliasi lebih baik menerima sanksi FIFA, dengan alasan yang menerima sanksi bukan hanya klub pendukung KPSI namun juga seluruh anggota PSSI.

Setelah ketujuh manifesto tersebut bocor ke pers, sontak forum dunia maya diwarnai perbincangan hangat, terutama menyoal manifesto no. 7 KPSI yang dinilai kelewat berani.

Namun, ketujuh manifesto tersebut dianulir sehari berselang atau pada 19 Maret 2012 oleh Bapak Hinca Panjaitan. Dia mengatakan bahwa manifesto hasil rapat RASN/KPSI yang asli adalah sebagai berikut:

a. Perlu melakukan reformasi Statuta PSSI terutama pada aspek kedaulatan anggota, struktur organisasi dan aspek decision policy.

b. Perlu memberikan penekanan pada penguatan Liga Profesional yang independen.

c. Perlu melakukan Reformasi Liga Amatir.

d. Perlu melakukan penguatan pada kedaulatan klub.

e. Perlu melakukan dan membangun komunikasi intensif dengan FIFA, AFC dan AFF, Pemerintah dan Masyarakat.

f. Perlu memproteksi kredibilitas PSSI dari tindakan oknum oknum PSSI yang melakukan tindakan hukum tidak sesuai dengan amanah Statuta PSSI, tidak menjalankan hasil Kongres serta tidak mengambil keputusan pada level Rapat Komite Eksekutif sebagaimana diamanatkan Pasal 38 Statuta PSSI.

Sebelum tenggat KPSI kepada PSSI untuk menggelar KLB selambatnya pada 30 Maret 2012 berakhir, KPSI langsung menggelar KLB PSSI di Hotel Mercure, Ancol, pada 18 Maret 2012, yang diklaim dihadiri 2/3 anggota PSSI.

Sebelum kongres itu digelar, keempat mantan exco yang dipecat (La Nyalla Mattalitti, Tony Apriliani, Erwin Dwi Budiawan, dan Roberto Rouw) mengajukan gugatan ke sidang Court of Arbitration for Sport (CAS) atas pemecatan mereka dan perihal agar diizinkan digelarnya KLB PSSI sesuai dengan rekomendasi RASN. Namun, hasil sidang CAS mengabaikan dan melarang hal tersebut.

SUSUNAN PENGURUS PSSI
HASIL KLB ANCOL, 18 Maret 2012

Masa Bakti 2012-2016

Komite Eksekutif:

Ketua Umum: La Nyalla Mahmud Mattalitti
Wakil Ketua Umum: Rahim Soekasah

Anggota:

Tonny Aprilani, Robertho Rouw, Erwin Dwi Budiawan, La Siya,
Zulfadli, Jamal Azis, Hardi Hasan, Diza Razid Ali, Ahmed Zaki Iskandar

Sekretaris Jenderal: Joko Driyono
Plt Sekretaris Jenderal: Tigorshalom Boboy

Bendahara: Indah Kurnia
Wakil Bendahara: Bambang Atmanto Wiyogo

Komite Darurat:

Ketua: La Nyalla Mahmud Mattalitti
Wakil Ketua: Rahim Soekasah
Anggota: Dodi Reza Alex Noordin, Kurnia Utama, Rizal Hafidz, Agus

Komite Disiplin:

Ketua: Hinca IP Panjaitan
Wakil Ketua: M Ma’ruf Syah
Anggota: M Nigara, Kol. Inf. Arief Prayitno, Ashari Rangkuti

Komisi Banding:

Ketua: M Mochdar
Wakil Ketua: Yedidiah Soerjosoemarno
Anggota: Aji Ridwanmas

Arbitrase:

Ketua: Irjen Erwin Tobing
Wakil: TM Nurlif, Irawadi Hanafi.

Komite ADHOC Pro-League:

Ketua: Erwin Dwi Budiawan
Anggota: Klub ISL dan IPL

Komite ADHOC Amandemen Statuta:

Ketua: Djamal Azis
Wakil Ketua: Dwi Irianto
Anggota: 2 Pengprov dan 3 Klub

Badan Tim Nasional:

Ketua: Rahim Soekasah
Wakil Ketua: Arief Jamaluddin

Badan Liga Amatir:

Ketua: Zulfadli

Special Taskforce Millenium Football Development

Chairman: Hinca IP Panjaitan

Komite Keuangan:

Ketua: Hardi Hasan
Wakil Ketua: Zulfadli
Anggota: Johar Lin-Eng, Roni Fauzan, Hasnuryadi Sulaiman

Komite Kompetisi:

Ketua: Tonny Aprilani
Wakil Ketua: Erwin Dwi Budiawan
Anggota: Umuh Muchtar, Idris, Kushandoko

Komite Teknik dan Pengembangan:

Ketua: Erwin Dwi Budiawan
Wakil Ketua: Robertho Rouw
Anggota: Benny Dolo, Reva Deddy Utama, Yeyen Tumena

Komite Wasit:

Ketua: Robertho Rouw
Wakil Ketua: Hardi Hasan
Anggota: Purwanto, Jimmy Napitupulu, Jaka Mulyono

Komite Hukum:

Ketua: Djamal Azis
Wakil Ketua: La Siya
Anggota: Gusti Randa, Arteria Dahlan, Abidin

Komite Sepak bola Wanita:

Ketua: Diza Rasyid Ali
Wakil Ketua: Ahmed Zaki Iskandar
Anggota: Monica Desideria, Selina Gita, Pinky Hidayati

Komite Pengembangan Sepak bola Usia Muda:

Ketua: La Siya
Wakil Ketua: Diza Rasyid Ali
Anggota: Sutan Harhara, Very Mulyadi, Nasrullah

Komite Futsal:

Ketua: Djamal Azis
Wakil Ketua: Tonny Aprilani
Anggota: Pradi Supriatna, Yasser Arafat, Mahmud Yunus

Komite Medis:

Ketua: Tonny Aprilani
Wakil Ketua: Diza Rasyid Ali
Anggota: Akmal Taher, Diah Defawati, John PA Kambu

Komite Status Pemain:

Ketua: Erwin Dwi Budiawan
Wakil Ketua: Zulfadli
Anggota: John Banua, Hanief Dakhiri, Debby Kurniawan

Komite Fairplay dan Tanggung Jawab Sosial

Ketua: Robertho Rouw
Wakil Ketua: Hardi Hasan
Anggota: Hartarto Lodaya, Nehemia Wospakrik, Akbar Zulfakar

Komite Media:

Ketua: Djamal Azis
Wakil Ketua: Ahmed Zaki Iskandar
Anggota: Edi Lahengko, Charly R. Lopulua, Sudarmaji

Komite Sepak Bola:

Ketua: Zulfadli
Wakil Ketua: Erwin Dwi Budiawan
Anggota: Yunus Nusi, Juni Ardianto Rahman, TB Kun Adi

Komite Studi Strategis:

Ketua: Tonny Aprilani
Wakil Ketua: La Siya
Anggota: I Nyoman Damentra, M. Thamrin Sagala, Diar Kusuma Putra

Komite Marketing dan Penasihat Televisi:

Ketua: Hardi Hasan
Wakil: Ahmed Zaki Iskandar
Anggota: Adri Maramis, Ophan Lamara, Ferry Is Mirza

Komite Keamanan:

Ketua: Ahmed Zaki Iskandar
Wakil Ketua: Robertho Rouw
Anggota: Timmy Setiawan, Nugroho Setiawan, Irfan Hatta Ali

Source:

http://bola.viva.co.id/news/read/300862-kabinet-pssi-versi-klb-resmi-terbentuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s